Literasi tidak selalu lahir dari ruang kelas, perpustakaan, atau mimbar-mimbar formal. Di tengah deru knalpot, jaket kulit, dan semangat persaudaraan jalanan, syiar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) justru menemukan medium baru yang segar dan inklusif. Gambaran itu tampak jelas dalam perhelatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-25 Club Motor Black Hawk Batavia yang digelar pada 13 Desember 2025. Sebuah momentum yang tidak hanya menjadi ajang perayaan club motor, tetapi juga ruang dakwah kultural melalui literasi.

Foto bersama Wasekjen PBNU dan sekaligus Penulis Buku One Under Nationz Outsiders
MMC Outsiders hadir membawa warna berbeda dalam acara tersebut. Tidak sekadar konvoi dan temu kangen antar pecinta roda dua, klub motor ini memperkenalkan karya literasi berupa buku perjalanan klubnya. Buku tersebut merekam sejarah, dinamika, nilai persaudaraan, serta perjalanan panjang MMC Outsiders sebagai club motor yang menjunjung tinggi solidaritas. Karya ini diterbitkan oleh Gunung Koentji Publishing, sebuah penerbit yang lahir dari tradisi intelektual PMII, khususnya PMII Sukoharjo.
Kolaborasi antara klub motor dan penerbit berbasis gerakan intelektual ini menjadi penanda bahwa dunia motor dan dunia literasi bukan dua hal yang bertolak belakang. Justru di sinilah literasi menjadi jembatan untuk menyampaikan nilai-nilai Aswaja NU secara halus, kontekstual, dan membumi. Buku tidak hanya menjadi arsip perjalanan club, tetapi juga medium syiar yang menyampaikan pesan kebersamaan, toleransi, dan loyalitas tanpa narasi menggurui.

Penyerahan Buku Outsiders sebagai apresiasi dan bentuk kehormatan terhadap Outsiders dan Black Hawk Batavia
Penjualan dan pengenalan buku MMC Outsiders di tengah perayaan HUT Black Hawk Batavia menjadi simbol kuat bahwa literasi dapat hidup di ruang-ruang nonformal. Lapak buku berdiri berdampingan dengan panggung hiburan, arena games, dan ruang diskusi santai. Interaksi yang terbangun menunjukkan keterbukaan klub motor terhadap gagasan, dialog, dan wacana kebangsaan serta keislaman yang inklusif.
Sapaan hangat dari MMC Outsiders membuka ruang diskusi yang cair tentang bagaimana nilai-nilai Aswaja NU dapat tumbuh dan berkembang di lingkungan klub motor. Percakapan tersebut tidak berjalan dalam bingkai ideologis yang kaku, melainkan melalui pengalaman hidup, praktik toleransi, dan semangat persaudaraan lintas latar belakang. Dari obrolan itulah, nilai Aswaja hadir secara tersirat sebagai etos bersama.

Buku yang diterbitkan oleh kader PMII lewat Gunung Koentji Publishing di acara Black Hawk Batavia Anniversary 25th
Keberagaman menjadi wajah utama acara ini. Berbagai latar belakang agama, budaya, dan sosial hadir dan menyatu dalam satu ruang perayaan. Perbedaan tidak menjadi sekat, melainkan kekayaan yang dirawat bersama. Nilai tasamuh (toleransi) tercermin dalam sikap saling menghormati, sementara tawassuth (moderasi) dan tawazun (keseimbangan) hidup dalam cara club motor menjaga solidaritas tanpa meniadakan perbedaan. Loyalitas antar anggota klub pun menjadi cermin nyata dari nilai ukhuwah yang sejalan dengan spirit Aswaja.
Rangkaian acara HUT ke-25 Black Hawk Batavia dikemas secara inklusif dan meriah. Games dan kuis menjadi ruang interaksi yang mencairkan batas antar club. Tawa dan kebersamaan mengisi setiap sudut acara. Penampilan band-band turut menyemarakkan suasana, menjadikan perayaan ini sebagai pesta persaudaraan yang merangkul semua kalangan.
Puncak acara ditandai dengan penampilan Jentre Band, band rock yang salah satu personelnya merupakan Wakil Sekretaris Jenderal PBNU. Dentuman musik rock yang dibawakan Jentre Band menjadi simbol bahwa nilai-nilai NU dan Aswaja dapat hadir di panggung budaya populer tanpa kehilangan substansi. Musik menjadi bahasa universal yang menyatukan, sekaligus medium dakwah kultural yang efektif dan relevan dengan generasi muda.

Foto dengan Bung Iwan Rasta salah satu penulis di buku One Under Nationz Outsiders
Kolaborasi MMC Outsiders dan Gunung Koentji Publishing dalam momentum HUT Black Hawk Batavia ke-25 menunjukkan bahwa syiar Aswaja dapat bergerak lintas ruang dan club. Literasi menjadi alat pemersatu, bukan sekadar produk intelektual, tetapi praktik kebudayaan yang hidup. Dari jalanan hingga halaman buku, dari deru mesin hingga diskusi santai, nilai-nilai Aswaja NU hadir sebagai ruh kebersamaan yang menyatukan perbedaan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa dakwah tidak harus selalu tampil formal. Ia bisa hadir dalam bentuk buku klub motor, dalam panggung musik rock, dan dalam solidaritas jalanan. Sebuah dakwah yang tersirat, tetapi mengakar; sederhana, tetapi bermakna.